I'M AND BLOG

WELCOME FOR MY BLOG!!

I'm Devil Bats

Laman

Jumat, 06 Mei 2011

PENGGUNAAN SENJATA BIOLOGIS DILIHAT DARI BERBAGAI SEGI


Text Box: Bacillus anthracis, salah satu agen biologi penyebab Antrax.http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0d/1993_Kameido_site_fluid_petri.jpg/200px-1993_Kameido_site_fluid_petri.jpg            Senjata biologi (bahasa Inggris: biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Dalam pengertian yang lebih luas, senjata biologi tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Dalam kenyataanya, senjata biologi tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman. Meski senjata ini di sebut juga sebagai “ Nuklir orang miskin” (Gould 1997) karena biaya yang di keluarkan jauh lebih sedikit dibandingkan senjata lain seperti Nuklir dan senjata kimia yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pembuatannya, namun dalam penyebaran senjata biologis sangat menakutkan dan efek pemusnahan massal-nya yang tak terelakan. Jumlah keragaman patogen cenderung bertambah, agen yang di gunakan sebagai senjata biologis adalah agen yang telah lama di kenal manusia, mudah di dapatkan di alam dan tidak sulit penangannya. Seiring perkembangan jaman senjata biologis semakin mengalami revolusi yaitu agen yang telah di rekayasa secara bioteknologi, senjata biologis yang telah di rekayasa lebih mengerikan dan membahayakan karena kebal akan antibiotik sehingga sulit untuk di musnahkan dan di tanggulangi penyerangannya.
            Penggunaan Senjata Biologis dilihat dari berbagai segi, yaitu :
SEGI MORAL

            Secara tidak langsung penggunaan senjata biologis dapat merusak moral sebuah bangsa dalam penggunaannya, bagi bangsa yang terkena senjata biologis biasanya di intai oleh keterpurukan dan guncangan mental di alami oleh penduduk yang menjadi sasaran senjata biologis. Meski biasanya senjata biologis di gunakan untuk penyerangan terhadap tentara musuh di medan perang ataupun faksi-faksi militer negara yang bersitegang namun tak jarang masih ada negara yang mengarahkan senjata biologis mereka pada penduduk dari negara yang bersitegang. Dilihat dari sisi ini jelas bahwa penggunaan senjata biologis harusnya tak perlu di gunakan selain dari tujuan utamanya untuk menjatuhkkan musuh senjata biologis dapat menyebabkan keruntuhan moral bagi sasarannya,dalam penyebarannya yang terus berkembang dari waktu ke waktu senjata biologis di kategorikan sebagai salah satu senjata yang sangat mematikan dan dilarang penyebarannya.
             Senjata biologis yang saat ini sedang di kembangkan di Irak adalah senjata biologis yang di duga dapat menyerang korbannya  langsung pada sistem syaraf motorik  korbannya yang meski dapat selamat korban berkemungkinan akan mengalami cacat mental meski masih di rahasiakan karena efeknya yang sangat mematikan Senjata bilogis yang sedang dalam tahap pengembangan ini memperlihatkan bahwa penggunaan senjata biologis tidak tepat mengingat perkembangan jaman yang merujuk pada globalisasi, keamanan dan kerja sama antar negara dalam pencegahan terjadi kembali perang dunia. Selain itu organisasi-organisasi yang ada di dunia saat ini seperti PBB mengangggap penyebaran senjata biologis merupakan sebuah ancaman besar bagi perkembangan dan perthanan moral sebuah bangsa. Sehingga jika di lihat dari segi moral jelas penggunaan senjata biologis adalah sesuatu yang bersifat buruk dan sering kali di kecam namun dari pada itu penggunaannya yang masih terus berlanjut menunjukan betapa minimnya keperdulian dunia terhadap moral sebuah bangsa.
SEGI POLITIK
            Penggunaan senjata biologis bagi suatu negara memang terkadang perlu untuk di lakukan demi mempertahankan negara ataupun kekuasaan yang dimiliki bahkan tak jarang di gunakan untuk memperluas atau meperbesarnya. Di dunia politik setiap hal yang di lakukan mencakup pemikiran yang matang namun merujuk pada keuntungan semata sehingga wajar rasanya jika dalam politik sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan dan lainnya, meskipun para pelaku pulitik bersembunyi di balik semua itu. Begitupun dengan penggunaan senjata biologis yang jika di tinjau dari segi politik sah-sah saja di lakukan asal merujuk pada alasan yang  jelas namun begitu seiring dengan berkembangnya jaman penggunaan senjata biologipun mulai di tekan sebisa mungkin. Pada awal abad ke 19 penyerangan dengan senjata biologis gencar di lakukan di berbagai peperangan antar negara terutama di Eropa, tercatat bahwa pada massa itu Eropa merupakan benua dengan penggunaan senjata biologis terbanyak baik dalam jenisnya ataupun dari segi penyebarannya.
            Meski seiring berjalannya waktu penggunaan senjata biologis sempat di larang dan hampir mencapai kesepakatan namun hal itu terhalang oleh pandangan sebagian negara seperti Amerika yang memandang bahawa penggunaan senjata biologis di perlukan demi keuntungan tingkat kemenangan jika menggunakan senjata biologis yang di anggap sangat mudah dan berpotensi untuk membawa pada sebuah kemenangan dalam medan perang.
            Perjanjian di tingkat internasional yang melarang penggunaan senjata biologis dimulai sejak Geneva Protocol tahun 1925. Akan tetapi, sejarah memperlihatkan bahwa pengembangan senjata biologis tetap berlanjut. Salah satu contoh yang terdokumentasi adalah penggunaan senjata biologis oleh tentara Jepang dalam perang dunia ke-2 di Cina. Untuk itu, pada tahun 1972 disepakati perjanjian Biological and Toxin Weapon Convention (BTWC) yang disponsori oleh PBB. Dalam perjanjian ini, lebih ditegaskan lagi mengenai “pelarangan dalam pengembangan, pembuatan dan penyimpanan segala jenis senjata biologis”. Sampai saat ini tak kurang dari 140 negara telah menandatangi perjanjian ini, termasuk Indonesia, Amerika, dan Rusia. 
            Akan tetapi kelemahan utama BTWC adalah tidak adanya kesepakatan bersama untuk pengawasan dan pembuktian, sehingga perjanjian ini mirip “singa tanpa gigi”. Rusia dan Irak terbukti mengembangkan senjata biologis walaupun ikut menandatangani persetujuan tersebut. Hal ini mendorong dibentuknya grup Ad Hoc pada tahun 1995 untuk membuat protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan. Pada awalnya, Amerika mendukung penuh kerja panitia Ad Hoc itu melalui pernyataan Presiden Clinton tahun 1998. Akan tetapi, di akhir protokol tersebut hampir selesai, sikap Amerika dibawah pemerintahan Presiden Bush berbalik total dengan tidak hanya menolak protokol itu tapi juga mengancam akan keluar dari perjanjian. Sikap ini mengingatkan pada langkah Amerika keluar dari perjanjian Kyoto mengenai pengurangan emisi gas karbon dioksida atau perjanjian peluru kendali antar benua. 
            Di lain pihak, Amerika tengah memperkuat kesiapan di dalam negeri terhadap serangan senjata biologis. Terungkapnya program rahasia Rusia dan Irak serta pembuatan dan penyebaran bakteri Bacillus anthracis oleh aliran agama sesat Aum Shinrikyo di Jepang tahun 1995, telah memicu hal itu. Tahun 1999, Konggres Amerika telah mengalokasikan dana 111 juta dolar bagi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk memperkuat sistem pendeteksian dini dan pengobatan terhadap bahaya senjata biologis (Khan, 2000). Berkaitan dengan itu pada bulan April 2000, CDC telah mengeluarkan rekomendasi untuk langkah-langkah strategis menghadapi serangan senjata biologis dengan membentuk jaringan laboratorium di seluruh Amerika. Tidak hanya pada tingkat rakyat sipil, Amerika juga telah mempersiapkan diri pada kekuatan militernya. Misalnya dengan pemberian vaksin anthrax pada seluruh personel militernya (Fidler, 1999). 
            Pada akhirnya, pengesahan BTWC yang sedianya akan dilakukan pada pertemuan 5th Review Conference di Jenewa, Swiss pada tanggal 19 November – 7 Desember 2001 yang lalu, gagal. Menurut Presiden dari Konferensi tersebut, Tibor Toth dari Hungaria, sebenarnya sudah 98% jalan menuju penandatangan BTWC dilalui dengan mulus. Banyak pihak, menilai penolakan Amerika adalah penyebab utama kegagalan ini. Namun kesepakatan itu tak pernah mencapai tujuannya yang nyata karena sampai sekarang penggunaan dan pengembangan senjat biologis masih saja di lakukan oleh sebagian negara meski dengan kerahasiaan yang terjaga dengan rapi.
SEGI KEMANUSIAAN
            Penggunaan senjat biologis dilihat dari segi kemanusiaan merupakan sesuatu yang kurang manusiawi dan di anggap lebih menyakitkan bila di bandingkan dengan senjata nuklir ataupun yang lainnya karena dalam penggunaannya senjata biologis tidak langsung membuat korban atau sasaranya mati namun sang korban harus terlebih dulu merasakan penderitaan dari rasa sakit yang di alami dari penyebaran bakteri atau virus yang membutuhkan waktu cukup lama hingga sampai pada tahap kematian. Namun tak semua senjata biologis yang di gunakan berujung pada kematian, sebagian senjat biologis menggunakan bakteri yang tidak mematikan namun tetap berbahaya karena jika tidak di tangani dengan baik tetap saja bisa berujung pada kematian.
                  Jumlah bakteri atau virus yang di gunakan cenderung bertambah dengan munculnya berbagai macam penyakit infeksi fatal baru seperti virus Ebola, virus Lassa. Bacillus anthracis, penyebab penyakit anthrax adalah pilihan utama dan telah terbukti dipakai dalam kejadian di Amerika baru-baru ini maupun coba dibuat di Rusia serta Irak. Dengan perkembangan yang sulit di hentikan semakin banyak jenis bakteri ataupun virus yang di gunakan sebagai senjata biologis dan tingkatannyapun semakin membahayakan dapat mematikan dengan waktu yang singkat juga ada yang sulit sekali untuk di obati.

            Melihat dari sisi ini jelas bahwa penggunaan senjata biologis tidak manusiawi dan harusnya di hentikan. Menurut sebuah penelitian di beberapa universitas di Amerika dan Australia bahwa secara sikologis penggunaan senjata biologis lebih menakutkan di bandingkan penggunaan senjata fisik seperti bom, hal ini di lihat dari kecenderungan penderitaan atau kesakitan yang di alami oleh korban atau sasaran senjat biologis meski pendapat ini masih menuai berbagai kritikan namun jika di tinjau dari pendapat ini kita dapat dengan jelas menyimpulkan bahwa penggunaan senjata biologis merupakan sebuah penyiksaan dan kesengsaraan yang merupakan bayaran dari sebuah kemenangan, kekuasaan dan akir dari pertahanan.

SEGI KEILMUAN
Sejarah Senjata biologi
            Sejarah penggunaan senjata biologi dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan senjata biologi terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Mati dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes. Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga akhirnya menimbulkan "kematian hitam" (black death) di wilayah Eropa.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/82/P442_Fig20-3B.JPG/200px-P442_Fig20-3B.JPG 

            Pada tahun 1754-1760, terjadi peperangan antara bangsa Britania Utara dan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan virus cacar. Ketika itu, Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari rumah sakit yang merawat penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut. Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan dua bakteri patogen, yaitu Burkholderia mallei penyebab Glanders dan Bacillus anthracis penyebab Antrax untuk menginfeksi ternak dan kuda tentara Sekutu. Pada tahun 1932-1935, Jepang mengembangkan program pembuatan senjata biologi di Cina yang dinamakan Unit 731. Sebanyak 3.000 ilmuwan Jepang bekerja untuk melakukan penelitian terhadap berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata, misalnya kolera, pes, dan penyakit seksual yang menular. Eksperimen yang dilakukan menggunakan tahanan Cina yang mengakibatkan ± 10.000 tahanan mati pada masa itu. Sejak saat itu, tidak hanya Jepang yang mengembangkan senjata biologi, namun juga diikuti oleh negara-negara lain seperi Amerika Serikat dan Uni Soviet.


Kemajuan Senjata Biologi
            Dalam perkembangannya penggunaan senjata bilogi mengalami kemajuan dalam ilmu bioteknologikal. Kemajuan ilmu bioteknologi (terutama rekayasa genetika) memiliki dampak negatif dan positif dalam pengembangan senjata biologi. dalam positif yang ditimbulkan adalah munculnya metode dan berbagai cara deteksi, identifikasi, dan neutralisasi agen biologi patogen secara lebih cepat. Berbagai jenis vaksin dan anti-toksin juga telah dikembangkan untuk mengontrol bakteri dan virus patogen yang digunakan sebagai senjata biologi. Modifikasi materi genetik/DNA organisme juga telah diterapkan untuk membuat racun, elemen yang menular, maupun senjata biologi yang mematikan. Data Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) juga telah dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem pertahanan sipil dan nasional suatu negara dalam melawan penggunaan dan pembuatan senjata biologi serta mengembangkan antibiotik dan vaksin baru.
            Kemajuan bioteknologi juga dapat disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mengembangkan senjata biologi yang sangat berbahaya, contohnya adalah menghasilkan organisme makroskopis yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk memproduksi toksin atau racun berbahaya. Berbagai agen biologi patogen juga dapat direkayasa secara genetik agar lebih tahan atau stabil pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki resistensi terhadap antibiotik, vaksin, dan terapi yang sudah ada. Selain itu, bioteknologi juga dimanfaatkan untuk pembuatan agen biologi yang tidak dapat dikenali oleh sistem imun atau antibodi tubuh karena profil imunologisnya telah diubah. Apabila senjata biologi yang telah dikembangkan dimanfaatkan untuk bioterorisme atau penyalahgunaan lainnya maka akan timbul kekacauan di dunia.
Agen Biologi dan Karakteristik Senjata Biologi
            Agen biologi adalah mikroorganisme (atau toksin yang dihasilkannya) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, hewan, atau tumbuhan, atau menyebabkan kerusakan material. Dalam pembuatan senjata biologi, agen biologi merupakan komponen penting yang harus diteliti terlebih dahulu sebelum diaplikasikan. Beberapa agen biologi dan penyakit yang pernah direncanakan untuk dijadikan senjata atau sudah pernah dijadikan senjata biologi di dunia antara lain.


            Karakteristik dari senjata biologi adalah mudah diproduksi dan disebar, aman digunakan oleh pasukan penyerang yang menyebarkannya, serta dapat melumpuhkan atau membunuh individu berulang kali dengan hasil yang sama/konsisten. Hal ini berarti, apabila kita menggunakan senjata biologi yang sama untuk menyerang beberapa daerah berbeda, maka dampak yang terjadi haruslah sama. Agen biologi pada senjata biologi juga harus dapat diproduksi dengan cepat dan murah. Untuk membuat suatu senjata biologi yang berkualitas baik, ada beberapa persyaratan tambahan yang harus dipenuhi, yaitu dapat ditularkan, menimbulkan sakit berkepanjangan yang membutuhkan perawatan intensif, dan gejala yang ditimbulkan bersifat non-spesifik sehingga menyulitkan diagnosis.  Umumnya, senjata biologi yang baik juga memiliki waktu inkubasi yang cukup panjang di dalam tubuh penderita sehingga penyakit dapat ditularkan dan menyebar secara luas sebelum dapat terdeteksi.
            Klasifikasi atau pengelompokkan senjata biologi dapat dilakukan berdasarkan taksonomi, inang, sindrom yang ditimbulkan, efek yang dihasilkan, cara penyebarannya, dan respon praktis atau menurut sifat fungsionalnya. Salah salah klasifikasi yang sering digunakan klasifikasi fungsional yang dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau CDC), meliputi:
  • Kategori A
    • penyebarannya dapat dilakukan dengan mudah dan ditularkan dari manusia yang satu ke yang lain;
    • penyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi memengaruhi kesehatan publik;
    • dapat menyebabkan kepanikan dan gangguan sosial;
    • memerlukan penanganan khusus untuk persiapan kesehatan masyarakat.
    • Contoh kategori A: cacar, antrax, botulisme, dll.
  • Kategori B
    • kemampuan penyebarannya bersifat moderat;
    • menimbulkan tingkat kesakitan yang moderat dan tingkat kematian yang rendah;
    • memerlukan peningkatan kapasitas diagnostik yang spesifik dan peningkatan pengawasan penyakit.
    • Contoh kategori B: brucellosis, demam Q, Glanders, dll.
  • Kategori C, meliputi patogen yang dapat dimodifikasi untuk disebarluaskan di masa depan, karena memiliki karakeristik:
    • ketersediaan memadai;
    • mudah diproduksi dan disebarkan;
    • berpotensi menyebabkan tingkat kematian dan kesakitan yang tinggi, serta mampu memengaruhi kesehatan publik.
    • Contoh kategori C: Virus Hanta, Virus Nipah, demam kuning, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar